Terpuruknya industri gula dalam negeri, menjadi pekerjaan rumah
yang hingga kini belum terpecahkan. Diskusi panjang nan melelahkan yang
bertujuan mengurai persoalan yang melilit industri pergulaan sudah
sering dilakukan. Namun sayangnya masih belum mampu menemukan jalan
pasti yang akan memandu langkah menuju kebangkitan industri gula
nasional. Situasi semacam ini lantas memantik pertanyaan, masih punya
masa depankah industri gula nasional kita?
Sebelum menjawab
pertanyaan tersebut, perlu kiranya kita mendiagnosa faktor apa saja yang
telah menyebabkan industri gula nasional enggan untuk bangkit kembali.
Ada beberapa faktor yang menyebabkan industri gula di tanah air masih
belum bisa bangkit. Di antaranya faktor kondisi pabrik yang relatif
sudah tua peralatannya, tata tanam tebu yang kian sembarangan, terlalu
murahnya harga gula sehingga petani tebu kurang tertarik untuk menanam.
Di masa lalu harga gula itu selalu tiga kali lipat lebih mahal dari
harga beras. Sekarang harganya hampir sama, padahal menanam padi hanya
perlu waktu tiga bulan, sedang menanam tebu memerlukan masa 16 bulan.
Selain itu, inefisiensi merupakan salah satu masalah utama yang dihadapi
industri gula nasional, sehingga mengakibatkan produktivitas menjadi
tidak maksimal. Inefisiensi industri gula tidak hanya terjadi pada sisi
budi daya (
on farm), tetapi juga saat proses pengolahan di pabrik (
off farm).
Banyak bagian dari tebu yang terbuang saat proses pengolahan di pabrik
gula sehingga membuat rendemen menjadi rendah dan produktivitas juga
menurun.
 |
Penerapan strategi yang terintegrasi dari hulu ke hilir yang
dilakukan PTPN X telah mampu untuk menciptakan pertumbuhan bisnis yang
berkelanjutan. Bila kinerja ini diikuti yang lain, maka bukan tidak
mungkin industri gula nasional akan bangkit kembali.Add caption |
Hemat penulis sebaik apapun kualitas tebu hasil
budidaya, jika proses pengolahan di pabrik gula tidak efisien, produksi
juga tidak akan maksimal. Inefisiensi lainnya juga terjadi pada
penggunaan bahan bakar yang masih tinggi. Padahal, tebu termasuk tanaman
yang punya karakteristik sebagai sumber energi. Seharusnya pabrik gula
bisa hemat bahan bakar minyak, karena pada saat giling mengeluarkan
ampas tebu yang bisa digunakan untuk bahan bakar alternatif. Di luar
faktor tersebut, terpuruknya industri pergulaan nasional –yang berstatus
BUMN-- ditengarai juga karena budaya korupsi yang sudah mengakar dan
menggurita di lingkungan BUMN pabrik gula.
Masih Ada Harapan
Secara faktual, Indonesia saat ini adalah negara importir gula yang
amat besar, namun Indonesia masih memiliki harapan untuk menjadi negara
produsen dan eksportir gula. Iklim di Indonesia sangat sesuai untuk
tebu. Indonesia juga merupakan negara terkaya sumber daya genetik tebu
dan diyakini sebagai daerah asal tebu dunia.
Tersedianya
jutaan hektar lahan yang sesuai untuk tanaman tebu di Kalimantan,
Maluku, dan Papua, menunjukkan bahwa Indonesia, dengan perencanaan,
kebijakan, dan pengembangan yang tepat, akan dapat kembali menjadi
negara eksportir gula. Selain itu, dengan kebutuhan gula saat ini yang
mencapai 5,10 juta ton tiap tahunnya, sementara produksi gula rata-rata
masih di kisaran 2,26 juta ton pertahunnya menunjukkan bahwa pasar gula
dalam negeri masih amat besar, dan itu selama ini belum dimanfaatkan
oleh kebijakan negara untuk mengembangkan industri gula dalam negeri.
Sayangnya, justru yang terjadi adalah yang sebaliknya, yakni pasar gula
Indonesia dimanfaatkan oleh produsen gula luar negeri dan sekaligus
kondisi harga gula dunia telah berperan memerosotkan industri gula
nasional. Menariknya lagi, bahwa negara-negara Amerika Serikat, Jepang,
Australia, negara-negara Eropa, India, Filipina, dan Thailand, yang
harga gula di pasar domestiknya lebih tinggi dari Indonesia, tidak
dibanjiri gula impor dan industri gulanya bahkan meningkat. Bahkan, Uni
Eropa menjadi negara pengekspor gula utama di dunia, padahal Uni Eropa
menghasilkan gula dari beet yang biaya produksinya 70 persen lebih mahal
daripada gula tebu.
Negara-negara eksportir gula itu
(Australia, India, Thailand, Amerika, dan Brasil) mampu mengekspor
gulanya dengan harga di bawah biaya produksinya. Jawaban atas semua
keanehan itu adalah karena negara-negara yang bersangkutan melindungi
potensi industri gulanya dan memanfaatkan pasar di dalam negerinya untuk
memperkuat industrinya.
Belajar dari PTPN X
Bahwa
untuk memacu produksi gula nasional sesungguhnya bukan sebuah mimpi,
namun bisa dilakukan bila semua pihak sungguh-sungguh melakukannya.
Sebagai contoh adalah kinerja positif telah ditunjukkan oleh PT
Pekerbunan Nusantara X (Persero). Perusahaan gula pelat merah ini tetap
mempertahankan posisi sebagai market leader di dunia pergulaan nasional.
Kinerja
positif itu misalnya ditunjukkan pada 2012, PTPN X membukukan produksi
gula sebanyak 494.443 ton. Jumlah tersebut meningkat sebesar 10 persen
dibanding 2011 yang mencapai 446.493,57 ton. Peningkatan itu juga
diiringi jumlah tebu yang digiling. Pada 2011 total tebu yang digiling
mencapai 5,616 juta ton dan pada 2012 meningkat menjadi 6,072 juta ton.
Sedangkan tingkat rendemen jeuga meningkat. Pada 2011 rata-rata di level
7,95 persen menjadi 8,14 persen di tahun ini. kemudian, produktivitas
lahan petani di lingkungan PTPN X juga yang terbesar di antara BUMN
lainnya, yaitu 84,2 ton per hektare (ha).
Penerapan strategi yang
terintegrasi dari hulu ke hilir yang dilakukan PTPN X telah mampu untuk
menciptakan pertumbuhan bisnis yang berkelanjutan.
Sustainable growth
ini penting tidak hanya untuk menjaga kinerja perseroan, tapi juga
menjalankan peran penting industri pergulaan nasional sebagai pengungkit
pertumbuhan ekonomi, terutama dalam hal peningkatan kesejahteraan
petani.
Sinergisitas dari hulu ke hilir adalah komitmen tinggi pada praktik agrikultur terbaik (
best agricultural practices)
dengan memadukan peningkatan kualitas budidaya tebu (on-farm) dan
pengolahan di pabrik gula (off-farm). Terkait diversifikasi, PTPN X juga
bertekad untuk
beyond sugar dan benar-benar bertransformasi menjadi industri berbasis tebu (
sugarcane based industry)
terintegrasi dari hulu ke hilir. Sebagai salah satu BUMN perkebunan
yang mengelola 11 pabrik gula, PTPN X kini mulai fokus dan serius
menggarap diversifikasi produk. Program diversifikasi yang sudah
dilakukan PTPN X adalah pengolahan ampas tebu untuk menghasilkan listrik
yang dikerjakan di Pabrik Gula Ngadiredjo, Kediri. Proyek
'co-generation' ini mampu menghasilkan listrik sebesar dua megawatt dan
bisa dijual kepada PLN. Proyek serupa akan dikerjakan di beberapa pabrik
gula lainnya, salah satunya PG Pesantren Baru, Kediri. Program
diversifikasi lainnya yang sedang dirampungkan PTPN X adalah pembangunan
pabrik bioetanol di PG Gempolkrep, Mojokerto, yang ditargetkan selesai
pada Juni 2013.
Di Indonesia, sebenarnya ada sekitar 45 industri
dari turunan produk tebu yang kini beroperasi dan menghasilkan sebanyak
14 jenis produk. Ini sebenarnya hal yang bagus. Sayangnya, mayoritas
industri itu dimiliki perusahaan yang sama sekali tidak bergerak di
bisnis pengolahan tebu. Pabrik gula hanya menyetor bahan baku ke
pabrik-pabrik tersebut, tanpa mendapatkan nilai tambah.
Industri
gula dalam negeri belum serius menggarap diversifikasi produk turunan
tebu nongula untuk memberikan nilai tambah bagi perusahaan. Saat ini
masih banyak produk turunan tebu yang sebenarnya sangat berpotensi untuk
dikembangkan secara komersial oleh industri gula, selain hanya
memproduksi gula. Upaya diversifikasi sangat mendesak dilakukan karena
bisa mengurangi risiko produksi di bisnis tebu, seiring biaya produksi
yang terus meningkat dan fluktuasi harga gula dunia. Sudah banyak
perusahaan gula dunia yang secara serius menggarap diversifikasi produk
dan berhasil, seperti di Brazil, Kuba, India, dan Thailand.
Industri Berbasis Riset
Berkaca pada persoalan-persoalan di atas, maka sudah waktunya kalau
pengembangan industri gula berbasiskan riset. Dengan bertumpu pada riset
maka diharapkan akan mampu untuk menghasilkan budidaya serta pengolahan
gula yang tepat guna dan tepat hasil. Tanpa perhatian serius ke riset,
pengembangan industri berbasis tebu hanya akan berjalan setengah hati.
Hulu dari semua langkah untuk mengembalikan kejayaan industri gula
adalah riset terpadu. Sejarah menunjukkan bahwa risetlah yang
menyelamatkan industri gula Jawa dari keterpurukan. Riset yang unggul
akan sangat menentukan masa depan industri gula nasional. Sebagaimana
karakteristik industri primer, industri gula membutuhkan riset sebagai
penyangga. Dengan basis tanaman yang sangat mudah dipengaruhi iklim,
tanpa riset yang unggul, produksi tebu akan sulit mencapai optimal.
Sebagai contoh dari sisi budidaya, diperlukan bibit unggul eks kultur
jaringan dengan produktivitas tinggi untuk menyiasati sulitnya
penambahan lahan tebu, terutama di Pulau Jawa. Melalui riset juga bisa
berinovasi menghasilkan varietas unggul yang mampu meningkatkan
produktivitas gula dan sebagainya.
Dalam perspektif
jangka panjang, upaya meningkatkan produksi gula dalam negeri merupakan
upaya strategis yang paling tepat untuk memecahkan persoalan pergulaan
Indonesia. Upaya peningkatan produksi dalam negeri, betapapun
pentingnya, harus senantiasa memperhatikan pertimbangan-pertimbangan
efisiensi.
Besarnya pasar gula Indonesia merupakan peluang bisnis
yang akan mendorong tumbuh berkembangnya pabrik-pabrik baru dan peluang
peningkatan penghasilan petani serta penyediaan lapangan kerja baru.
Pasar
pangan yang amat besar yang kita miliki selayaknya dimanfaatkan untuk
juga memperkuat perekonomian nasional dan meningkatkan kesejahteraan
rakyat. Dengan melihat masalah-masalah yang ada, serta potensi yang
tersedia, membangun kembali kejayaan industri gula di Indonesia, dan
menjadikan Indonesia negara eksportir gula, bukanlah suatu utopia,
tetapi suatu hal yang dapat dan sepatutnya diusahakan dalam tahun-tahun
yang akan datang ini. Artinya, industri gula di tanah air sejatinya
masih punya masa depan kalau kita semua secara sungguh-sungguh
mewujudkannya.
Wallahu’alam Bhis-shawwab